Kelas Inspirasi Yogyakarta 2016 baru saja berakhir, tepatnya 6 Februari 2016. Tahun ini adalah tahun ketiga saya mengikuti KIY, tahun ini sedikit berbeda karena sebenarnya saya mau tidak ikut dulu karena sebelum KIY saya harus pergi keluar kota selama 1 bulanan, lalu ingin fokus membangun hal hal lain dulu. Rencana tinggal rencana, ditengah jalan, sepulangnya saya kembali dari luar kota, bergabunglah saya menjadi relawan penyelenggara KIY. Ada dua sisi mata uang ketika saya melihat KIY tahun ini, ketika saya berada jauh dari KIY, mengambil jarak, saya melihat bahwa kegiatan ini sangat terkonsep, rapih, meriah, acaranya lebih beragam, perkembangannya di bagian web sangat drastis, merchandise juga begitu, audiensi dengan pihak-pihak luar juga sangat padat dan banyak. Namun sisi lainnya adalah, karena acaranya begitu padat, banyak relawan yang kewalahan, seperti tidak bisa mengikuti cepatnya langkah gerakan ini, banyak yang pergi dan tak kembali, emosi yang memuncak, orang-orang yang belum saling mengenal, tekanan pekerjaan yang sangat banyak , dan waktu yang terbatas. Ya, setiap peristiwa memang ada baik-buruknya.
Sebenarnya kegiatan besar KIY itu hanya 3 : Technical Meeting, Hari Inspirasi, Selebrasi. Seperti fenomena gunung es, yang besar memang hanya 3 tapi dibelakang itu ada banyak agenda demi menyukseskan kegiatan tersebut. Contohnya adalah pembukaan pendaftaran relawan, rapat setiap minggu di hari jumat, mengunjungi beberapa radio untuk promosi KIY, penentuan tanggal dan tempat, hari TM, inspirasi, selebrasi, penyeleksian relawan, memikirkan soal merchandise, pembekalan relawan, penentuan sekolah mana yang diikutkan ke KI, belum lagi printilan rintilan kecil tentang layout tempat, konsumsi, dan sebagainya yang lumayan menguras pikiran. Jadi dari sisi relawan penyelenggara, mereka tentu akan sedikit sedih hatinya, kalau ada relawan pengajar yang menyepelekan salah satu dari 3 hari itu, karena persiapannya memakan waktu sekitar 6 bulan, dan itu waktu yang sangat lama. Relawan pengajar bukannya santai santai saja, karena mereka yang berhadapan langsung dengan siswa, menyiapkan bahan ajar, memikirkan format acara di sekolah nantinya dan mereka akan sedih hatinya kalau para relawan penyelenggara tidak mempunyai persiapan yang matang sehingga tidak mempunyai informasi cukup tentang segala hal berkaitan 3 hari tersebut.
Berbicara soal 3 hari besar KIY : TM, Inspirasi, Selebrasi. Saya ingin membahas sedikit tentang ketiganya. Hari TM adalah hari perkenalan antara relawan pengajar, sekolah, dan fasilitator. Sebelum itu terjadi para panitia penyelenggara (surveyor sekolah, fasilitator) sudah mendatangi sekolah tersebut dan meminta izin apakah bersedia mengikuti KIY, pada hari TM ini juga, para relawan mengetahui apa tema yang diusung panitia lokal. Hari Inspirasi merupakan hari dimana para relawan pengajar datang ke sekolah dan menerangkan profesinya kepada para siswa. Hari refleksi atau selebrasi merupakan hari apresiasi untuk para relawan pengajar, acara yang dikemas adalah yang menomorsatukan "fun", tanpa kehilangan esensinya sebagai acara bernafas pendidikan.
Saya pada tahun ini kebagian jatah menjadi fasilitator SDN Dekso. SD Dekso ini berada didaerah Kalibawang. Beberapa hari sebelum TM saya dan Izzah, teman fasilitator saya mengunjungi sekolah ini untuk survey, dan saat TM saya menceritakan kondisi sekolah kepada para relawan pengajar. Beberapa hari setelah itu izzah menemani para relawan untuk survey ke sekolah, saya menyusul setelahnya. Ada pengalaman yang cukup unik yaitu rapat pertama kami membahas Hari Inspirasi terjadi di Rumah Makan Padang (Padang Murih, daerah Kebon Agung). Keren bukan?
Tahun ini relawan sekolah kami tidak melakukan banyak rapat, hanya rapat online saja melalui WA, dan H-1 kita menginap di tempat izzah, karena tidak terlalu jauh dengan sekolah tujuan. Hari Inspirasi pun tiba, kami bersama-sama ke sekolah. Para relawan yang berasal dari luar kota akhirnya bisa bertemu dengan para siswa. Pembukaan pun dimulai, kami berkenalan dengan anak anak. Lalu pagi itu kita menaikkan semangat anak anak dengan berjoget (flashmob) menggunakan lagu sherina. Setelah pembukaan, para relawan mulai masuk ke kelas. Yang saya kagumi dari relawan pengajar ini, walaupun jarang ada rapat secara langsung yapi mereka sudah sangat siap, dengan segala perlengkapannya, ada yang membuat mic, ada yang membawa stetoskop, mempersiapkan proyektor, dsb. Cara mengajarnya juga variatif, jujur saya salut banget sama relawan pengajar.
Jam mengajarpun telah usai. kami mulai berkumpul lagi lapangan sekolah untuk penutupan. Di sekolah kami, penutupannya cukup sederhana. kami menyiapkan toples lalu memberikan anak anak secarik kertas dan pita. Mereka lalu menuliskan mimpinya di toples tersebut, mirip seperti time capsule. Setelah semua siswa memasukkan mimpi mereka, kami meminta perwakilan dari ibu dari sekolah untuk menanam toples tersebut. Semua siswa sangat tertatik dengan hal itu, mereka mengerubunginya, Bu Sri (perwakilan sekolah) lalu mendoakan harapan tadi agar menjadi nyata. Amin. Setelah itu kami berfoto bersama, penutupan pun selesai. Kami diberikan kejutan oleh pihak sekolah, para guru dan seluruh isi sekolah memberikan kami hadiah kami beberapa lagu. Sudah tiga tahun saya di KIY, tapi baru kali ini saya dapat perlakuan seperti ini. Luar biasa. Setelah itu kami melakukan refleksi di sekolah, guru guru memberikan apresiasinya kepada para relawan, pun ada satu guru yang terharu dan hampir menangis karena acara ini. Hari Inspirasi pun selesai, kami lalu pulang dan bersantai di Pantai Glagah, menikmati air kelapa.
Besoknya, di Pendopo WiyotoProjo ada Hari Selebrasi KIY. Hari selebrasi ini dijadikan sebagai ajang apresiasi relawan yang sudah mengajar kemaren, lalu selain hiburan, ada juga talkshow yang membicarakan tentang pengalaman relawan yang terjun ke Hari Inspirasi. Yang jadi puncak dari acara ini adalah penampilan dari Mas Robby dan Mufid dari FSTVLST bersama relawan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka. Tidak terasa perjuangan 6 bulan ini berakhir juga. Saya pribadi mengucapkan terimakasih kepada relawan panitia yang telah berusaha sangat keras, tim artistik, relawan pengajar, fotografer, videografer yang terlah ikut serta menyukseskan acara ini. KIY tahun ini sangat meriah !
Saya merasa beruntung karena bisa mengikuti program ini, asal mulanya adalah sebuah postingan di Instagramnya Klinik Kopi yang isinya mengajak beberapa orang yang suka minum kopi untuk menanam pohon kopi bersama di daerah Turgo. Tanpa pikir panjang langsung saja saya email bahwa saya pingin ikutan. Beberapa saat setelah itu, mas pepeng pun mengonfirmasi bahwa saya dibolehkan ikut.
Sabtu, 30 Januari 2015. Saya tiba di Klinik Kopi dua jam lebih awal daripada waktu janjian, beruntungnya lagi mas pepeng sedang roasting, sehingga bisa belajar sedikit tentang roasting, dan kami pun ngobrol tentang banyak hal. Jogja sedang panas-panasnya, semangkuk es burjo waktu itu jadi teman ngobrol yang sangat tepat, diselingi oleh bau harum biji kopi yang sedang digoreng.
Para peserta trip kali ini pun mulai berdatangan, yang buat saya kaget adalah ada dua orang cewek yang datang jauh-jauh dari Solo untuk mengikuti kegiatan ini, naik motor pula ! Salut ! Saya berkesempatan membuatkan kopi untuk mereka berdua, dan ternyata mereka ini barista. Kami berangkat sekitar pukul 15.00, tak kurang dari 15 orang mengikuti trip ini. Turgo berada diutara kota Jogjakarta, mungkin sekitar 40 menit perjalanan mengendarai motor, ditengah perjalanan hujan turun dengan derasnya, kami sempat menepi tapi tak lama karena takut sampai Turgo terlalu malam. Sesampainya di Turgo, baju basah kuyup !
Kami lalu berkenalan dengan empunya rumah, Pak Muslimin, beserta keluarga dan Mas Sulis. Kopi menjadi teman berbincang kami, selagi kami menghangatkan badan. Karena yang mengikuti trip ini adalah orang-orang yang suka kopi, jadi jangan heran kalau setiap orang punya alat brewing dan cara brewingnya sendiri, ada yang perkolasi, ada yang pake kalita, v60, banyak metode ! Mas Sulis dan Pak muslimin memiliki greenhouse untuk konservasi anggrek, ada sekitar 60 jenis anggrek yang dikonservasi. Rumah mereka sangat nyaman, ruang tamu yang bisa digunakan sebagai ruang pertemuan warga, green huose anggrek, sebuah gazebo, ada pohon markisa, pohon nangka, bibit kopi, pohon nanas, semua ada. Pada malam hari itu kami dijamu oleh semangkok Soto Bakso yang hangat dengan tempe goreng sebagai makanan pendampingnya, sedap !
Selain agenda menanam kopi, kegiatan memberikan informasi kepada petani Turgo adalah agenda penting lainnya. Turgo mempunya potensi besar sebagai daerah penghasil kopi, karena didaerah ini tumbuh Kopi Arabica Typica. Mas pepeng pun memberikan semangat dan sedikit pengalamannya untuk mengajak para petani untuk menanam kopi kembali. Pada pertemuan kali ini datang juga Mas Megan, teman mas pepeng yang menginformasikan kepada petani bahwa pasar biji kopi masih terbuka lebar, untuk itu mereka mengharapkan para petani itu kembali menanam kopi.
Setelah beberapa jam sharing, kami pun beristirahat. Pada pagi harinya saya terbangun karena suara ayam yang berkokok sangat kencang, tak bisa melanjutkan tidur saya beranjak ke dapur. Ibu Muslimin ternyata sedang menyiapkan masakan untuk makan kami pagi nanti, setelah saya tanya ternyata ibu bangun jam 3 pagi untuk menyiapkan seluruh hidangan, pada saat itu udara terasa sungguh dingin, segelas teh Turgo hangat dan bakwan jagung yang baru matang terasa sangat nikmat. Ibu ibu di Turgo biasanya memasak dengan kayu bakar, kompor sih ada, tapi mereka lebih nyaman menggunakan kayu bakar, mungkin biar rasa masakannya lebih nikmat.
Jam sudah menunjukkan pukul 7, kami lalu berjalan-jala mengelilingi desa. Setelah beberapa menit berjalan, kami lalu menemukan banyak pohon robusta, juga dengan arabika. Pohon pohon kopi disini sudah berusia puluhan tahun dan tidak ada yang merawat, tumbuh besar dengan liar. Tak hanya pohon kopi yang kami temui, pohon teh juga. Pohon teh yang ada disini tumbuh dipinggir jalan, walau tidak ditanam dengan alur yang baik, tetapi pohon teh ini bisa menjadi tambahan penghasilan bagi warga sekitar. Ada warga yang sudah mengolah teh ini dan dijual ke orang-orang walau harus melalui pemesanan terlebih dahulu.
Hari Minggu pukul 09.00 kami berangkat ke kebun yang dimiliki Mas Sulis. Ada sekitar 100 bibit pohon yang akan ditanam disini. Beberapa bulan sebelum ini, Mas sulis sudah mempersiapkan lahan ini dengan melubanginya, mengatur jarak tanamnya, dan memberikan kompos. Tugas kami sekarang hanya membantu menanam bibit bibit tersebut. Beberapa saat setelah itu, semua bibit sudah ditanam, kayaknya ada yang kurang kalau trip kali ini tidak ditutup dengan foto bersama. Setelah itu, kami semua pulang, pulang ke rumah Pak Muslimin dan dilanjutkan pulang ke rumah masing-masing.
Saya pribadi mengucapkan banyak terimakasih kepada Mas Pepeng selaku pemrakarsa acara, teman-teman yang saya kenal saat trip ini karena seduhannya nikmat nikmat, terimakasih sebanyak-banyaknya kepada Pak Muslimin & Ibu serta mas sulis karena sudah mau direpotkan, sudah mau bangun sangat pagi hanya untuk menjamin kita tidak kelaparan, diberikan kesempatan untuk belajar dan bertemu keluarga baru. Terimakasih, sampai ketemu di trip selanjutnya.
Kredit Foto : Klinik Kopi
Jogja pada siang hari sedang panas-panasnya. Saya, landung dan Adib memang punya janji untuk menjajal salah satu bakul mie ayam yang cukup terkenal di wilayah Jogja selatan. Mie Ayam Om Karman namanya. Terletak di Jalan Parangtritis-Cepit, ancer ancer kalau mau ke tempat ini yaitu dari Jalan Parangtritis terus ke selatan sampai ke pertigaan yang ada pos polisinya di kanan jalan (dekat dengan pertigaan rumah paris/desa wisata tembi), dari pertigaan itu ambil ke arah barat. Terus saja mengikuti jalan, nanti bakulnya berada di kanan / utara jalan tersebut.
Dari luar, warungnya sangat ramai, beberapa kursi yang tersedia penuh ditempati pelanggan, tempatnya tidak terlalu besar, sekitar 4x6m mungkin. Saya dan landung memesan Mie Ayam Bakso, dan adib menyusul dengan memesan Mie Ayam. Seperti mie ayam jawa kebanyakan, warna kuahnya coklat dengan rasa manis dan gurih yang wajar, tidak terlalu kencang. Ciri khas dari bakul mie ayam ini adalah loncang (daun bawang) cincang yang disediakan sebagai tambahan, kalau dicampur bisa menambah tekstur dan aroma yang menambah cita rasa mie ayam. Tambahan lainnya yang juga unik adalah bakso goreng yang ukurannya lumayan besar, bakso goreng ini renyah diluar tapi sangat empuk didalam, cocok dicocol dengan kuah mie ayam. Ada satu kekurangan mie ayam ini, kurang kalau pesen cuma 1 porsi.
Harga mie ayam ini juga lumayan murah, Rp.11.000 untuk seporsi mie ayam bakso. Sebagai catatan, datanglah pada siang hari karena sore biasanya sudah habis, dan loncang cincangnya juga biasanya sudah habis. Dicatat baik baik, kalau ke bakul ini cobalah baksonya, enak !
Coffee Trip Bandung : Dreezel dan Ngopilok plus Roti Gempol
By rubikomugglo - January 25, 2016
Bandung. Kota yang selalu ingin saya tuju dari dulu, tapi memang tidak pernah sampe rezekinya untuk bisa belajar atau tinggal disana. Saya diundang oleh teman saya Depo untuk mencoba racikan kopi di warungnya sendiri. Tak perlu menunggu waktu lama, saya mengatur jadwal keberangkatan dan kepulangan. Berangkatlah saya menggunakan argo parahyangan dari Gambir ke Stasiun Bandung. Sesampainya di Bandung saya lalu dijemput oleh Depo diajak berjalan-jalan sebentar, lalu meletakkan tas di kos dan akhirnya dapat kesempatan menyambangi warung kopi miliknya.
Warung Kopi di Depo ini bernama Ngopilok, berasal dari bahasa Indonesia logat melayu Pontianak yang berarti "Ngopi Dulu". Yang ditawarkan dari warung kopi ini adalah Kopi Saring Khas Pontianak, dan di sajikan dalam gelas kecil, di Pontianak kopi ini disebut "Kopi Pancong". Cita rasa kopi Robusta sangat nikmat dengan sedikit tambahan susu kental manis. Seimbang ! warung ini dikelolanya dengan teman-temannya satu kontrakan, selain menjual kopi, ada cemilan khas Pontianak juga seperti chaikue, bakwa, pisang goreng srikaya.
Saya lalu meminta depo untuk mengajarkan cara membuatkan kopi pancong, dengan susu, dan tanpa susu. Lalu sebagai imbalannya saya buatkan kopi single origin dengan metode v60. Saya sebelum ini memang punya mimpi punya warung kopi yang manual brewing, dengan alat yang beraneka ragam tapi depo inilah yang memberikan pemahaman bahwa harus ada nilai lokal yang dibawa. Berhubung saya juga berasal dari Pontianak, rasa-rasanya seru juga kalau punya alat kopi saring di warung saya nantinya.
Hari berganti, dan saya diajak mencoba sebuah warung kopi yang direkomendasikan oleh Depo, namanya Dreezel. Letaknya tidak jauh dari kontrakan depo, sekalinya sampai di tempat saya lalu dibuat takjub dengan konsepnya. Sangat minimalis dalam arti sebenarnya, karena tempat nyeduhnya hanya sebuah kotak satpam, kursinya dari tong bekas yang ditembak kayu. Tempatnya adalah parkiran sebuah rumah, sangat keren. walaupun begitu kopi yang ditawarkan sangat enak, dengan pelayanan yang sangat baik pula. Ada single origin dan ada juga house blend, di kedai ini ada juga menu dengan espresso based dengan alat manual seperti bellman frother dan rokpresso. Sangat layak dicoba !
Selanjutnya saya diajak ke kedai kopi Gayo didaerah Dipati Ukur, dekat dengan Unpad. Saya gak sempat foto-foto tapi yang paling berkesan adalah mereka modal, dengan grinder mazzer dan mesin roasting kopi yang lumayan kapasitasnya. Esoknya saya diajak ke Roti Gempol, saya suka kopi tapi tak melulu kopi, diajak ke warung roti legendaris haram hukumnya kalau ditolak. Jalan-jalan dibandung kali ini sangat istimewa, semoga saat depo kesini warung saya sudah buka, bisa gantian adu konsep.
Melanjutkan tulisan mengenai pengalaman umroh di Madinah, kali ini perjalanan berlanjut ke Mekkah. Perjalanan kami lanjutkan menggunakan bus, tetapi sebelum itu kami melakukan ziarah wada (ziarah perpisahan) ke makam Rasulullah. Sewaktu kita datang ke Madinah kita melakukan ziarah, dan sewaktu ingin keluar dari madinah juga ziarah. Sekitar siang hari setelah makan kita lalu menaiki bus, perjalanan panjang ini menghabiskan sekitar 6 jam perjalanan. Dalam perjalanan tersebut kami sudah menggunakan kain Ihram dan disempatkan berhenti di Masjid Bir Ali, mengambil niat umroh dan berihram. Kalau sudah berada di keadaan Ihram, kita tidak boleh memakai pakaian berjahit, tidak boleh menggugurkan rambut, tidak boleh membunuh binatang, tidak boleh berkata kasar, tidak bolehnya banyak. Saya pribadi nggak terlalu masalah dengan masalah tersebut, tapi karena biasanya itu pake sempak dan ini gak pake sempak, jadinya risih gitu.
Sesampainya di hotel, kami hanya berhenti untuk makan dan menaruh koper, setelah itu dengan badan yang masih lelah dan mata yang mengantuk kami langsung ke Masjidil Haram untuk melakukan ibadah Umrah meliputi Thawaf, Sa'i, dan Tahalul. Dengan bimbingan dari muthawif kami melakukan putaran 7 kali berlawanan dengan arah jarum jam, dengan ka'bah selalu berada di kiri kita, sesekali melambaikan tangan ke arah hajar aswad, dan membaca doa-doa yang kita tahu, setelah 7 putaran, kami lanjutkan sholat sunnah thawaf, minum zamzam, lalu menuju bukit safa dan marwa untuk melakukan sai. Sai juga dilakukan dengan 7 putaran, dimulai dari Safa selesai di Marwa, setelah itu kami pun potong rambut (tahalul), banyak yang memotong rambutnya sampe botak, tapi saya tidak, saya potong sedikit saja, secukupnya. Karena ibadah kita itu dilakukan setelah perjalanan panjang, maka lelahnya badan pun sangat terasa, ditambah dengan jauhnya jarak masjid dari hotel, banyak orang yang sudah tua jatuh sakit, sehingga malah jarang pergi ke masjid, sangat disayangkan,bahkan ada dari kelompok saya yang sampai meregang nyawa, karena penyakitnya kumat. Semoga mendapatkan surga karena bisa wafat ditanah haram. Amin. Jangan lupa untuk membawa obat, vitamin, madu sebagai pelembab bibir, semua ini penting karena badan benarbenar harus fit untuk melakukan ibadah umrah.
Banyak yang menarik dari Mekah dan Masjidil Haramnya, ya ka'bahnya, hajar aswadnya, hijr ismalilnya, safa marwanya. Jujur saya sangat merinding takjub melihat bentuk ka'bah ini, biasanya hanya saya lihat di gambar, di sajadah mesjid mesjid, tapi ini saya lihat langsung, dan ketika sholat mata saya tidak pernah melihat kebawah, tapi saya lihat benar ka'bah ini saking takjubnya. Di masjidil banyak tempat yang mustajab untuk memanjatkan doa, banyak orang mencium ka'bah, memagangnya, menangis didepannya, tapi ada satu hal yang tidak bisa lepas dari perhatian saya yakni hajar aswad, selalu ramai dengan orang yang ingin menyentuhnya dan menciumnya. Konon katanya dulu hajar aswad itu batu berwarna putih, lalu berubah menjadi hitam seiring dengan banyaknya manusia yang menciumnya, ada yang bilang kalau hajar aswad menyerap dosa manusia dan akan semakin hitam dari hari ke hari, bentuknya hitam dan agak cekung terletak di sebelah pintu ka'bah.
Saya sungguh penasaran dengan bagaimana bentuknya batu tersebut, sukur sukur bisa memeganynya ataupun menciumnya. Di dua hari terakhir saya di Mekah, saya benar benar berusaha untuk menuju batu tersebut. Terlalu banyak orang yang ingin melakukan hal yang sama, dan semua berdorong-dorongan, sangat menguras tenaga. Saya berkali kali keluar dari kumpulan dengan badan lusuh karena penuh keringat, lemes karena terhimpit gedenya orang orang arab. Akhirnya saya riset, tanya tanya orang bagaimana caranya, akhirnya ada yang memberikan tips yakni jangan membawa apapun kecuali badan, lalu mengendap endap dari pojok ka'bah, kalau rejekinya ada, momennya dapet, ya dapetlah itu hehe. Ketika saya berusaha beberapa kali dan hampir menyerah, tiba tiba ada orang Indonesia tampak seperti santri mendekati saya lalu berkata, "Mas mau dianter ke hajar aswad?" lalu saya pun menolak tawaran tersebut. Beberapa saat setelah itu, saya pun menyerah dan kembali ke hotel. Besoknya saya bisa menyentuh hajar aswad dan menciumnya. Tak terasa saya pun sudah harus berpisah dengan Mekah dan saya menuju rumah. Saat di bandara, seperti biasa kami bercerita dengan jamaah lain tentang pengalaman ibadah kita, saat saya bercerita tentang Hajar Aswad, ada satu jamaah yang nyeletuk, "Wah saya juga ditawari mas? saya terima lalu saya diantarkan, setelah diantarkan dia meminta 100 Riyal, saya gak punya uang, saya kasih 50 Riyal. Ternyata Makelar Hajar Aswad". Saya merasa kasihan, tapi juga bersyukur karena saya tidak kena. Saya lalu teringat kata CakNun bahwa orang Indonesia itu bisa menggabungkan sifat setan dalam malaikat dengan luwes. Saya sampe sekarang masih geleng geleng, di Masjidil Haram, di Masjid yang paling agung, yang ada ka'bahnya, yang kalau berbuat baik nilainya 100.000 lebih baik dari masjid lain, orang Indonesia dengan tenang jadi Makelar di Hajar Aswad, Salut ! AHAHAHAHAHA
Mie Ayam Pak Wiyono atau lebih terkenal atau sering disebut Mie Ayam Sendowo ini berlokasi di daerah Sendowo, dekat dengan Rumah Sakit Sardjito. Tempatnya nyempil, sedikit masuk masuk ke jalan kecil, juga sangat sederhana, berukuran tak lebih dari 4x4m, tetapi yang istimewa selalu penuh oleh pelanggan yang tak henti-hentinya datang. Untuk menuju ke bakul mie ayam ini, carilah Bank Mandiri UGM, diselatannya persis ada jalan, ambil jalan itu dan terus ke arah barat sampai ketemu SD Percobaan, terus lagi kearah barat sampe ketemu BatuRaden Residence kalau tidak salah, terus lagi kebarat dan ketemu pertigaan, lalu ambil arah utara, lalu gerobak mie ayam berwarna putih pun kelihatan sudah.
Mie ayam yang dijual disini adalah jenis mie ayam jawa kalau boleh saya bilang, bercitarasa gurih dan manis serta berkuah coklat yang penuh dengan bumbu. Pembeda Mie Ayam Sendowo ini dengan mie ayam lainnya adalah penambahan basreng (bakso goreng) dalam semangkuk mie ayamnya, mie yang dipakai pun lebih tebal daripada mie ayam lainnya, sehingga selain mengenyangkan ada sensasi renyah yang sangat menyenangkan terjadi di mulut. Bisa dilihat dari foto, porsinya sangat besar, nggak heran banyak anak kos yang jadi pembeli mie ayam ini.
Mie ayam pak wiyono ini mempunyai 3 station, pertama station Bakso, kedua Mie Ayam, dan ketiga station minuman. Ketika saya pesan mie ayam spesial, saya sangat menyukai kerjasama antara bapak dan ibu penjual karena mie nya direbus dan dibumbui di station mie ayam, setelah itu mie ayam diserahkan ke bapak dan diberikan sedikit ba'so goreng, bakso bunder dan kuah bakso. Setelah itu bapak yang mengantarkan ke saya. Tempat mereka kecil, tak lebih dari 4x4 tapi kerjasamanya luar biasa. Kompor yang digunakan pun berbeda, di station mie ayam kompor yang digunakan adalah kompor bertekanan tinggi untuk mempercepat proses perebusan mie, sedangkan di stasion bakso yang digunakan adalah anglo dengan arang untuk menambah aroma dan panas yang konsisten sehingga kuah bakso tetap panas dan lebih sedap.
Sudah lihat kan harga mie ayamnya, seporsi mie ayam spesial 8.500 rupiah, murah banget! dengan rasa yang enak dan porsi yang besar pula. Pertanyaan yang muncul dikepala saya adalah berapa banyak margin atau untung yang didapat dari semangkuk mie ayam ya? Tempatnya nyempil, pak wiyono pun tidak terlalu paham instagram, twitter, internet untuk mempromosikan makanannya saya asumsikan. Kapasitas warungnya hanya 16 orang maksimal, ada 4 kursi yang satu kursinya maksimal 4 orang. Dengan kondisi yang saya sebutkan tadi, saya sangat kagum dengan beliau karena menjual makanan dengan harga sebegitu murah dan rasa yang sangat enak. Terimakasih pak, salut dari saya. Terakhir, ada satu nilai yang selalu saya percaya ketika tinggal di Jogja, senyempil atau semblasuk apapun rumah makan, kalau dia enak, pasti akan ada yang datang.
Perjalanan ini adalah perjalanan yang paling panjang, jauh yang pernah saya lakukan. Berpuluh ribu kilometer, 9 jam penerbangan, melelahkan. Madinah, Mekah itu tujuan saya, ya, saya melakukan ibadah umrah untuk pertama kali. Jujur saja tidak pernah terpikir saya untuk bisa kesini, karena saya tahu saya belum mampu dan saya bukan orang yang pantas kesini karena banyak kesalahan yang saya perbuat. Mungkin saya memang disuruh, ditegur untuk lebih mengingatNya. Perjalanan dimulai dari Jakarta, berkumpul dengan grup travel kami. Untuk melakukan ibadah Umroh kita sepertinya diharuskan untuk menggunakan tour and travel, karena untuk memudahkan pengaturan perjalanan dan penginapan kita disana, lalu juga untuk memudahkan mendapatkan visa, saya dengar dengar kalau mau backpacker, akan sulit mendapatkan visa, tapi entahlah, belum pernah mencoba. Penerbangan kami delay, dan kami akhirnya takeoff setelah maghrib. Saya jarang menaiki pesawat Garuda Indonesia, tapi saya sangat senang dengan pelayanan dari maskapai tersebut, sangat ramah, tidak heran mereka mendapatkan world's best cabin crew. Fasilitas yang diberikan juga lumayan, ada screen dengan banyak film, games, headset, dan untuk yang beristirahat, kita mendapatkan bantal, selimut, penutup mata dan telinga. 9 jam penerbangan memang melelahkan, tapi juga tidak terlalu berasa lama karena berbagai fasilitas dan pelayanan dari maskapai ini. Hebat.
Sampailah kami di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah pada pukul 1.00 pagi kalau tidak salah. Saya sudah pernah mendengar bahwa Imigrasi bandara ini adalah salah satu paling lucu, karena kita bisa tiba-tiba ditinggal ngobrol, main HP, youtuban, whatsappan, telfonan, dsb. Saya akhirnya bisa membuktikan pengalaman ini, banyak loket imigrasi yang buka. Kami pun mulai mengantri, mungkin panjang antrian kami sekitar sepuluh meter. Kalau di Indonesia, antrian sepanjang ini paling lama membutuhkan 30 menit, tapi kalau disini, ya di bandara ini, saya mengantri selama 3 jam, gila. Kakak ipar saya mendapatkan pengalaman disambi Youtubean saat di cek hahahahaha
Perjalanan 6 jam lewat darat kami tempuh, sempat dapat pengalaman ditilang juga karena melebihi batas kecepatan. Kami sampai Madinah pas saat zuhur, kami pun mengurus barang dan menempati kamar terlebih dahulu. Saat memasuki Madinah (tanah haram) kami mengucapkan doa, dan ada beberapa larangan di tanah haram ini, seperti tidak boleh membunuh binatang, tidak boleh mengambil tanahnya, dan sebagainya. Kami akhirnya dapat melaksanakan solat fardhu di Masjid Nabawi, bahasa arabnya Al Masjid Al Nabawi. Saya jujur seperti orang udik, karena tolah toleh, planga plongo, mesjidnya gede banget, payungnya mbuka tutup, atapnya nggeser-nggeser, orangnya rame banget. Kalau disini, ketika adzan semua kegiatan akan berhenti, orang akan pergi ke masjid untuk solat berjamaah dan kegiatannya akan berlanjut setelah solat.
Masjid ini sungguh indah, bersih dan fasilitasnya sangat menunjang para jamaah untuk khusyuk beribadah. Kebiasaan yang ada disini adalah banyaknya orang yang tadarrus dengan menggunakan alquran yang disediakan panitia masjid, ada beribu ribu alquran disini dari yang terjemahan Indonesia, turki, perancis, dsb. Fasilitas lain adalah air zam zam yang selalu tersedia, sehingga ketika haus bisa langsung minum, tapi yang jadi masalah saya hanya satu, karena Madinah ini sangat dingin, rata-rata 11 derajat celcius, paling dingin 9 derajat, dan itu membuat saya sering kentut, nah tempat wudhunya jauh bener, jalan kaki mungkin bisa menghabiskan 5-10 menit, beratus ratus meter, jadinya ya gitu harus pandai nahan kentut dan kencing, kalau kepepet.
Pada Senin dan Kamis, ada buka puasa bareng. Akan ada tiker yang digelar lalu orang orang yang ingin urunan hidangan berbuka silahkan menghidangkan hidangannya. Lalu panitia masjid akan menyediakan kurma, teh, kopi, roti. Saya pernah nih mengikuti kegiatan ini, enak banget, gratis, perut kenyang, bisa silaturahmi dengan banyak orang, sangat indah pengalaman yang saya alami. Oiya, kalau disini jangan heran kalau sewaktu solat banyak yang melangkahi badanmu. Jangan heran kalau kamu sering tidak dijawab, dibentak oleh polisi polisi, ya pengalaman juga lah ini namanya.
Saya mendapatkan saran dari sebuah teman kalau sudah sampai Masjid Nabawi, cobalah sholat di Rawda, dan sudah saya terima saran tersebut. Tapi yang membuat saya merinding adalah menatap dinding ini, makam Nabi Muhammad SAW, dan sahabatnya. Banyak orang yang melambaikan tangannya, menyapa nabi, tapi yang saya rasakan adalah makamnya harum dengan wangi yang tidak menusuk hidung. Sangat Indah. Semoga syafaatmu selalu menyertai kami wahai Kanjeng Nabi.
Ini adalah gerai Starbucks didepan gerbang 25, sangat kecil, tidak lebih besar dari 2x3 meter gerainya. Sangat berbeda dengan Starbucks Indonesia yang gedenya bukan main, ada yang bilang kalau gerai seperti ini dibuat untuk meminimalisir pertemuan antara wanita dan laki-laki. Jujur saja gerai Starbucks ini tidak terlalu ramai, analisa pribadi saya karena beberapa hal, pertama mahal, kedua tidak bisa nongkrong, orang tidak terlalu suka kopi gaya amerika, karena mereka punya arabican coffee dan turkish coffee. Yang saya lihat adalah tempat tempat seperti mall, KFC, Starbucks, disekitar masjid diberikan tempat seminimalis mungkin, dibuat setidak menarik mungkin, sehingga tidak lebih menarik dari masjid yang didalamnya banyak kegiatan, banyak tausiyah yang dishoot di masjid, ada buka puasa, ada latihan mengaji, ada air gratis, ada tempat dimana doa menjadi makbul (rawda) dan sebagainya sehingga orang lebih senang ke masjid ketimbang ke tempat tempat seperti ini. Tambahan satu poin lagi, jangan kaget kalau lagi belanja di Mall, mall nya tutup tiba-tiba dan kita solat di selasar mall ya, itu udah biasa.
Mungkin ada seperti peraturan tidak tertulis dalam suatu rumah makan yaitu kalau rumah makan tersebut mblusuk (nyelip nyelip di gang) dan tempat itu ramai, maka masakannya layak untuk dicoba. Nah saya rasa aturan itu sangat masyuk untuk menggambarkan Warung Makan Mbo' Wignyo ini. Saya dapat rekomendasi makan disini oleh Masdon (@dondendron), Mas Dwiky (@dwikynico) dan rimangasta (@rimangasta)
Warung makan mbo' wig ini terletak di daerah demangan, dekat dengan SMA De Brito Yogyakarta. Dari jalan raya, carilah green salon di barat jalan, disebelah salon tesebut ada gang. Masuklah ke gang itu dan ikuti jalan sampai ketemu pertigaan pertama, belok kiri, lalu ikuti jalan sampai mentok, setelah itu beloklah ke kanan langsung ke kiri, ada plang gang abimanyu, kalau sudah ketemu plang ini, sudah terlihat warung mbo' wig ini karena parkirannya rame.
Setelah masuk kedalam, pesanlah nasi sop empal plus tempe goreng dan jangan lupakan sambelnya. Didalam sepiring sop empal ini ada empal, dan sop (YAIYALAH YAAAAAAAAAAAAAAAAA). Sop nya sop bening, isinya kol, wortel dan soun. Empalnya terbuat dari daging sapi yang dipotong-potong. Sebenarnya disini gak hanya menyediakan sop empal, ada ayam juga, ada telor juga, tapi ya itu juaranya empalnya itu.
Rasa Sop ini gurih tetapi ringan, dengan rasa kaldu yang sangat terasa. Menurut saya dalam pembuatan sop ini, bu wignyo menggunakan bumbu alami, dan tidak menambahkan bahan bahan seperti MSG. Empalnya empuk, dan manis. Tempe melengkapi cita rasa dari hidangan ini, tetapi ada satu hal yang jangan sampai kelewatan, sambal. Sambalnya pedes banget, jos gandos, huh hah. Ketika sop dan empal yang manis dipadukan dengan sambal yang pedes banget, wah nikmat luar biasa. Asli.
Soal harga, murah meriah. Sop Empal + Tempe + Sambal + air putih = 15 ribu rupiah. Perut Kenyang Hati Senang.
Kredit Foto : yang bagus Masdon yang foto (@dondendron), yang biasa aja saya yang foto (@rubikomugglo)
Tulisan ini saya buat untuk teman teman yang ingin nonton MotoGP di Malaysia musim depan, sukur-sukur bisa jadi referensi. Mari membahas hal terkait untuk mendapatkan pengalaman MotoGP yang maksimal dengan biaya seminimal mungkin.Di kalender MotoGP, MotoGP Sepang berada di seri kedelapan belas, kedua terakhir dari keseluruhan seri MotoGP, kemaren terlaksana dari 23-25 Oktober 2015.
Hal penting yang pertama adalah soal ticketing. Saya dapat tiket dengan harga yang sangat murah yaitu 150RM untuk Main Grandstand, lebih murah daripada yang dijual di MotoGP.com. Cara untuk mendapatkan tiket murah seperti itu adalah dengan membeli jauh jauh hari, saya kemaren membeli tiket tersebut sebelum akhir mei (early bird). Hal penting lainnya adalah jangan beli di motoGP.com karena lebih mahal, belilah dari website resmi sirkuit tersebut, misal sepang sircuit.com. Kemaren saya beli dan diambilkan oleh teman saya orang Malaysia, saya belum pernah mencoba online purchasing, silahkan dicoba.
MotoGP Sepang terlaksana dari 23-25 Oktober, berarti dari hari Jumat sampai Minggu. Kalau punya waktu sih saya sarankan datangi semua hari tersebut, karena biasanya ada penawaran-penawaran unik di setiap harinya. Saya kemaren datang pada hari Jumat karena ada Autograph session with riders dan ada Pitwalk session. Tidak beruntung karena idola saya Valentino Rossi hanya berada di sesi tersebut selama sepuluh menit, jadinya saya tidak dapat ttd nya padahal sudah nganti selama 3 jam.
Setelah itu pada sore harinya, ada pitwalk session, tiket ini diberikan kepada 1500 ticket holder. Kita diharuskan mengantri lagi, dalam sehari ini saya sudah mengantri lebih dari 5 jam. Jangan lupa membawa air dan payung, serta handuk karena panasnya bukan main. Setelah antri, walaupun banyak orang yang tidak pintar mengantri karena selalu menyerobot antrian kami pun masuk. Keren ! Bisa lihat motor Andrea Dovisiozo sedekat ini. Menurut saya ada kurangnya sih, karena gak semua pitbox dibuka. Gimana soal box nya rossi? kasih fotonya ajadeh, rame banget !
Setelah itu saya pulang. Capek.
Hari Minggunya, saya pergi ke KLIA dulu karena harus menjemput teman dari Indonesia. Oiya, soal transportasi ke Sepang dari Malaysia itu cukup mudah. Panitia memberikan shuttle bus dari KL Sentral ke Sepang, KLCC ke Sepang, KLIA dan Sepang. Harganya 30RM untuk pulang pergi dan RM 18 untuk sekali pergi. Setiap 30 menit sekali akan pergi dari tempat masing masing. Datang awal ya, karena nanti bisa gak kebagian tempat duduk yang strategis.
MotoGP Sepang tahun ini sangat seru, karena ada insiden oleh Marquez dan Rossi. Juara 1 Pedrosa, 2 Jolor, nomor 3 Valentino Rossi. Di Sepang sangat banyak fans Rossi, sehingga kalau mau beli merchandise harus awal awal karena cepat habis. Untuk harga merch, paling murah 50 RM untuk saputangan, Kaos 200RM, gantungan kunci 70RM, cukup mahal. Pulangnya saya naik bis lagi, ngantrinya panjang, ngantri lagi, kesekian kali. -_-






